Apa yang Salah dengan Offset

Bernad Steni

17 Maret 2011,

Saya orang kaya di komplek RT Maju Mundur. Lima tahun yang lalu cerobong asap rumah saya rusak. Asap kemudian menyebar ke kompleks satu RT sehingga membuat tetangga terganggu. Masalah tersebut lalu dibawa ke rapat RT Maju Mundur. Setelah didesak oleh berbagai pihak agar saya memperbaiki cerbong asap saya, saya lalu berargumen bahwa masalah asap di rumah saya agak serius karena kalau cerobongnya diperbaiki biayanya mahal dan renovasinya kompleks, bisa-bisa rumah mewah saya ikutan ambruk kalau diperbaiki secara serentak. Saya menguraikan semua angka dan materi yang akan dikeluarkan dengan menggunakan statistik yang saya lebih-lebihkan, karena saya tahu tetangga saya tidak paham. Namun omongan yang dipoles muslihat tersebut rupanya “dimakan” juga oleh tetangga. Tetangga kompleks memahami masalah saya, kemudian memberi toleransi agar diperbaiki secara bertahap. Intinya, asap yang mengganggu lingkungan sekitar rumah saya bisa dikurangi. Saya setuju. Namun asap tersebut rupanya makin menebal seiring dengan makin seringnya pesta mewah di rumah saya.

Namun, saya merasa sayang kalau cerobong saya diperbaiki karena strukturnya sudah bagus dan biayanya pun mahal. Maklum itu warisan keluarga yang antik dan unik. Tetangga makin terganggu dan protes. Supaya meredamkan murka mereka, karena saya orang kaya, saya mengusulkan tawaran seperti ini. Saya tidak usah mengurangi pesta dansa dansi yang berujung pada memperbesarnya kepulan asap dari rumah saya tapi saya gantikan protes tetangga dengan membayar sejumlah uang. Jumlah tersebut akan ditambah dengan bantuan teknis. Misalnya, kalau ledeng mereka bocor nanti ada tukang yang perbaiki, listrik anjlok ada yang akan bantu, kalau ban sepeda anak mereka bocor saya akan suruh orang untuk membeli ban yang baru. Pokoknya enak deh.

Koalisi warga RT Maju Mundur pecah. Saya tahu, ada yang memang benar-benar butuh uang untuk memperbaiki banyak pipa air yang pecah dalam rumahnya. Biayanya mahal karena harus membongkar lantai, membeli pipa, semen, keramik baru, dst. Mereka menerima tawaran tersebut. Alhasil, saya masih bisa meneruskan kepulan asap di rumah saya, bahkan akhir-akhir ini karena pengeluaran saya cukup banyak untuk membantu warga yang setuju dengan tawaran saya, ada banyak pesta penerimaan rekan bisnis di rumah saya untuk meningkatkan sumber penghasilan.

Sehingga, pengeluaran ke warga sekitar tidak lah seberapa dibanding dengan kontrak-kontrak bisnis baru. Saya pun semakin sering pesta dan kepulan asap dari rumah saya semakin menyebar kemana-mana. Para tetangga saya tidak akan protes. Toh recehan saya untuk menutupi mulut besar mereka sudah saya berikan rutin tiap bulan.

Memang enak menjadi orang kaya. Semua masalah bisa diatur dengan uang. Itulah prinsip utama offset. Kepulan asap saya stabil bahkan bisa bertambah asalkan saya memberikan sedikit kontribusi untuk memperbaiki rumah kumuh dan kumal dari tetangga saya. Mereka juga biasanya rada bloon. Jika dikipasi uang 5000 perak biasanya omongnya kencang, bernada tinggi. Kalau dinaikan jadi 20rb, suaranya agak menurun. Tambah lagi jadi 50rb, mereka sedikit tersenyum. Kalau jadi 100rb, mereka serempak tertawa terbahak-bahak. Ah…tetangga saya yang bloon, mereka tidak tahu kepulan asap saya itu bisa membutakan mata anak-anak mereka, membuat atap dan besi rumah makin keropos dan akhirnya runtuh hanya dalam sekali gempa kecil atau angin ribut. Saya tidak bertanggung jawab untuk masalah-masalah itu karena perjanjian saya dengan mereka adalah membantu masalah-masalah yang bukan akibat kepulan asap saya, tapi membantu fasilitas yang rusak di rumah mereka semata-mata karena kedermawanan saya sebagai orang kaya kelas wahid di RT ini. Silakan mereka jadi gelandangan karena kehilangan rumah dan sumber daya. Bukan urusan saya. Malah buat saya enak, karena saya makin bebas hidup sendiri di RT ini dengan makin sering pesta dan bila perlu membuat asap dapur saya berlipat ganda. Mantab toh….

Itulah dasar offset. Mengapa kita harus menolak dia karena sangat licik.