Kelembagaan Konvensi Perubahan Iklim

Bernad Steni

17 Maret 2011,

Konvensi memiliki struktur kelembagaan yang membantu mewujudkan tujuan konvensi. Bagan struktur tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut:

Intergovernmental Negotiating Committee (INC)

INC dipersiapkan sejak 1990 untuk menyelenggarakan negosiasi perubahan iklim, termasuk perundingan di Rio de Jeneiro 1992. Meskipun tidak mengikat, banyak rekomendasi INC yang mendorong agar konvensi dapat diimplementasikan, antara lain menyangkut keuangan, laporan emisi dan komitmen. INC bertemu untuk terakhir kalinya pada bulan Februai 1995 dan selanjutnya berbagai proses perundingan berikut diteruskan oleh Conference of Parties.

Conference of Parties (COP)

COP merupakan asosiasi para pihak yang meratifikasi konvensi. Menurut konvensi, COP merupakan badan tertinggi konvensi yang berwenang membuat keputusan. COP bertanggung jawab menjaga konsistensi upaya internasional dalam mencapai tujuan utama konvensi. Karena itu, secara rutin COP meninjau komitmen para pihak melalui peninjauan komunikasi nasional dan pengalaman para pihak menerapkan kebijakan nasionalnya terkait isu perubahan iklim. COP diselenggarakan setahun sekali, kecuali karena suatu kondisi tertentu para pihak menghendaki lain. Penentuan tempat penyelenggaraan COP tergantung tawaran calon tuan rumah. Jika tidak ada penawaran, otomatis COP diselenggarakan di sekretariat UNFCCC di Bonn, Jerman

Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA)

Konvensi membentuk SBSTA sebagai badan pembantu tetap yang bertugas menangani masalah-masalah teknis dan ilmiah. SBSTA bekerja berdasarkan keputusan COP, namun bisa juga  memberikan nasihat dan menjembatani konvensi dengan sumber-sumber informasi ilmiah sehingga masalah-masalah teknis dan metodologis yang dihadapi konvensi dapat dipecahkan. Untuk membuat informasi tetap update dan akurat, SBSTA mendapat informasi dari kumpulan para pakar yang tergabung dalam IPCC maupun lembaga-lembaga lainnya. Kadangkala, SBSTA juga bisa meminta IPCC menyusun laporan khusus atau makalah teknis di sela-sela tugas utama IPCC menyusun assessment report secara berkala.

Subsidiary Body for Implementation (SBI)

Badan pembantu tetap lainnya adalah SBI yang bertugas melakukan penilaian terhadap Komunikasi Nasional dan Inventarisasi Emisi yang disampaikan para pihak sesuai dengan komitmen yang diberikan (pasal 4). SBI juga bisa memberikan saran kepada COP dalam hal mekanisme keuangan yang dioperasikan Global Environment Facility (GEF), urusan administrasi dan masalah lain yang berkaitan dengan anggaran. Dalam perkembangan perundingan terkini, SBI juga terlibat intensif dalam mendiskusikan mekanisme pendanaan baru untuk adaptasi dan juga REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation). Dalam melakukan tugas-tugas tersebut SBI sering melakukan kerja sama dengan SBSTA dalam menyelesaikan masalah-masalah umum (cross-cutting issues) antara lain membahas perkembangan mekanisme, penaatan (compliance), pengembangan kapasitas dan kerentanan negara berkembang dan cara-cara mengatasinya.

Ad-hoc Group

Dalam hal-hal tertentu, COP bisa membentuk Ad-hoc group, sifatnya sementara sesuai kebutuhan. Adhoc yang pernah dibentuk, antara lain:

  1. Ad-hoc Group on Berlin Mandate (AGBM). Dibentuk pada COP pertama di Berlin untuk menyelenggarakan berbagai pertemuan yang berujung pada pembentukan dan pengadopsian Protokol Kyoto.
  2. Ad-hoc Group on Article 13 Konvensi (AG13) yang dibentuk untuk mempelajari kemungkinan implementasi pasal 13 konvensi yang mengatur tentang resolusi berbagai pertanyaan mengenai implementasi konvensi. Pasal ini mensyaratkan adanya konsultasi multilateral, sehingga AG13 melakukan pertemuan enam kali dan mempresentasikan hasilnya dalam COP 4.
  3. Joint Working Group (JWG). Dibentuk dalam COP 4 untuk menyelesaikan sistem penaatan di bawah Protokol Kyoto.  Hasil kerja kelompok ini terkubur dalam kemelut perundingan COP 6 di Den Haag, Belanda dan akhirnya diperpanjang hingga sesi kedua COP 6 di Bonn.
  4. Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol (AWG-KP) yang dibentuk COP 11 di Montreal untuk membahas komitmen berikut dari negara-negara maju di bawah Protokol Kyoto.  AWG-KP diharapkan menyelesaikan pekerjaannya pada 2009, namun perundingan COP 15 di Copenhagen tidak menyepakati apapun sehingga AWG-KP terus bekerja dan diharapkan bisa menghasilkan konsensus pada COP 16 di Mexico.
  5. Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention (AWG-LCA). Pada COP 13 di Bali, dalam rangka mencapai keputusan yang mengikat di COP 15 di Copenhagen maka melalui keputusan 1/CP.13 atau disebut dengan the Bali Action Plan, COP melaunching proses yang komprehensif untuk memberi jalan yang luas, efektif dan berkelanjutan bagi penerapan konvensi melalui tindakan kerja sama jangka panjang hingga dan melampaui 2012. AWG-LCA diharapkan menyelesaikan pekerjaannya sebelum COP 15 di Copenhagen dan mempresentasikan hasil pekerjaannya dalam COP 15 tersebut agar diadopsi.  Namun COP 15 tidak menghasilkan keputusan apapun atas AWG-LCA sehingga  COP melalui decision 1/CP.15  tentang hasil kerja AWG-LCA memperpanjang mandat AWG-LCA untuk memampukan kelompok kejra tersebut melanjutkan pekerjaannya dengan harapan akan mempresentasikan hasil kerjanya pada COP 16 di Mexico.

BIRO

Biro terdiri dari tiga yakni Biro COP, SBSTA dan SBI. Biro COP dibentuk dan dipilih oleh COP pada setiap awal sesinya. Tugas biro adalah mengarahkan pekerjaan COP dan badan-badan pembantunya. Untuk mempertahankan kesinambungan tugasnya, biro  COP tidak hanya bekerja dalam satu sesi COP, tetapi juga pada periode antarsesi (inter-sessional period). Biro COP beranggotakan 11 orang yang mewakili lima wilayah PBB yaitu Asia, Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Barat dan group lain  (Western Europe and Others Group, WEOG). Yang termasuk group lain adalah Australia, Kanada, Eslandia, Selandia Baru, Norwegia, Swiss dan Amerika Serikat. Sebelas anggota tersebut termasuk satu orang Presiden COP, tujuh orang wakil presiden, satu orang ketua SBSTA, satu orang ketua SBI, dan satu orang Pelapor. Biro COP dipilih untuk satu tahun tetapi anggotanya dapat dipilih ulang untuk kedua kalinya. Sementara biro SBSTA dan SBI terdiri dari Ketua, Wakil Ketua dan Pelapor. Tugasnya mirip dengan dengan biro COP tetapi dengan masa jabatan dua tahun.

Global Environment Facility (GEF)

Konvensi membentuk mekanisme keuangan untuk membiayai berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim dan implementasi konvensi di negara berkembang. Untuk sementara, mekanisme tersebut dikelolah GEF. GEF sendiri dibentuk tahun 1991 oleh berbagai negara dan meminta Bank Dunia untuk mengelolah dana pilot sebesar 1 milyar USD dengan misi membantu melindungi lingkungan global dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan.  Dalam kaitannya dengan perubahan iklim, kesepakatan pertama antara GEF dan UNFCCC terjadi di COP 2 tahun 1996, kemudian diperbarui dalam COP 4 dan selanjutnya ditinjau setiap empat tahun sekali. Dana GEF diimplementasikan oleh Bank Dunia, UNDP dan UNEP. Persoalan birokrasi dan jumlah dana yang minim mewarnai perjalan GEF hingga kini. Karena itu, dalam perdebatan terkini, banyak proposal dari negara pihak mengusulkan agar pendanaan perubahan iklim melalui GEF diperbarui dan bahkan diganti dengan mekanisme yang lebih efektif.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

IPCC bukan merupakan kelembagaan konvensi tetapi memberikan masukan yang sangat penting dalam proses negosiasi perubahan iklim. IPCC dibentuk oleh WMO dan UNEP pada 1989 sebagai panel ilmuwan yang diusulkan pemerintah untuk melakukan penilaian dan pembahasan yang mendalam terhadap literatur teknis dan ilmiah dan hal-hal yang terkait. IPCC dikenal dengan Laporan Pengkajian (Assessment Report) yang secara luas dikenal sebagai informasi yang otoritatif dan dapat dipercaya tentang perubahan iklim. Hingga saat ini IPCC telah mengeluarkan empat Laporan Pengkajian yakni tahun laporan pertama 1990, laporan kedua 1995, laporan ketiga 2001 dan laporan keempat 2007. Laporan-laporan ini menjadi  dasar ilmiah bagi COP untuk melakukan negosiasi.

Sekretariat Konvensi

Sekretariat Konvensi berkedudukan di Bonn, Jerman. Tugas utamanya tercantum dalam pasal 8 konvensi, yakni :

  • Mengatur penyelenggaraan dan memberikan layanan dalam COP, pertemuan-pertemuan badan pembantu dan biro;
  • Mengkompilasi dan meneruskan laporan yang diterimanya
  • Memberikan fasilitas kepada para pihak, khususnya permintaan dari negara berkembang dalam hal kompilasi dan komunikasi informasi sesuai dengan yang diamanatkan konvensi.

Selain tiga tugas di atas Sekretariat juga membantu koordinasi teknis antara sekretariat dengan badan-badan yang relevan, menyiapkan dokumen pertemuan dan berbagai dukungan teknis lainnya.


END NOTES

http://unfccc.int/kyoto_protocol/items/4577.php, download di Jakarta 12 Maret 2010

http://unfccc.int/meetings/items/4381.php download di Jakarta 12 Maret 2010

Untuk melihat jenis dan berbagai laporan IPCC, silakan unduh di http://www.ipcc.ch/publications_and_data/publications_and_data.htm, download 3 Feb 2010