Perubahan Iklim Tingkatkan Kemiskinan

courtesy Kompas.com

17 Maret 2011,

Perubahan iklim yang berdampak terhadap sektor pertanian dapat berujung pada peningkatan angka kemiskinan di Indonesia.

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Handoko, menyampaikan, skenario terburuknya, perubahan iklim membuat produktivitas pertanian menurun sehingga pendapatan petani semakin kecil. Padahal, dua pertiga warga miskin di Indonesia berada di pedesaan dan mengandalkan hidupnya dari pertanian.

“Sekarang yang jelas lahannya petani tidak sampai setengah hektar. Kalau produktivitas enggak sampai, berapa yang dia dapatkan, dia terima? Beda dengan petani Australia yang lahannya ribuan hektar,” ujar Handoko saat mengisi seminar nasional “Korupsi yang Memiskinkan” yang diselenggarakan Kompas di Hotel Santika, Jakarta, Senin (21/2/2011).

Kendati demikian, Handoko juga mengatakan bahwa perubahan iklim dapat membuat petani lebih maju. Perubahan iklim memaksa petani beradaptasi lebih kreatif. Namun, jika melihat kondisi petani di Indonesia, hal tersebut seolah mustahil. Menurut Handoko, kondisi petani Indonesia saat ini memprihatinkan.

“Lahan pertaniannya sudah sempit, modalnya juga pas-pasan, pendidikannya lebih rendah, lebih banyak makin miskin, produksi akan turun,” katanya. Sementara kondisi iklim di Indonesia saat ini, lanjut Handoko, menunjukkan tanda-tanda perubahan perubahan. “Yang sekarang, ya, kekeringan, terus banjir, kekeringan. Di daerah-daerah yang monsoonal, antara musim hujan dan kemaraunya jelas, terjadi kekeringan, musim hujannya makin pendek,” papar Handoko.

Akibat perubahan iklim tersebut, waktu tanam bergeser. Semula petani dapat memanen dua kali dalam setahun, kini menjadi hanya satu kali panen. Handoko melanjutkan, turunnya produktivitas pertanian akibat perubahan iklim tersebut dapat berakibat fatal secara nasional. Diramalkan, pada 2050 terjadi defisit gabah kering sebesar 60 juta ton. “Itu asumsi tidak ada penambahan lahan atau pengurangan konsumsi per kapita,” ujarnya.

Untuk mencegah hal tersebut, lanjut Handoko, diperlukan upaya bersama dalam mengatasi ketahanan pangan jangka panjang. Hal itu dapat dilakukan antara lain dengan mengurangi konsumsi beras, diversifikasi pangan, peningkatan luas areal pertanian, peningkatan produktivitas, perencanaan waktu dan pola tanam, intensifikasi dan konservasi lahan serta air, dan peningkatan pemahaman petani tentang iklim melalui pendidikan.

“Jangan makan beras. Kalau kita turunkan konsumsi beras, itu lebih efisien dibandingkan kita buka sawah baru. Jadi, harus dilakukan bersama-sama, diversifikasi pangan, membuka sawah baru, mengurangi konversi lahan petanian, terutama sawah irigasi, menyesuaikan dengan perubahan iklim sendiri, menentukan waktu tanam yang tepat,” paparnya. “Kemudian kita harus bicara prioritas, memanfaatkan lahan-lahan marginal, bisa saja di luar Jawa. Penggunaan teknologi, peningkatan hasil per satuan luas,” kata Handoko.