SELUK BELUK PEMANASAN GLOBAL, 2010

oleh : Bernadinus Steni

1. APA ITU PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global adalah kejadian naiknya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi yang berdampak pada akibat-akibat serius bagi muka bumi dan manusia. Beberapa fakta tentang kenaikan temperatur bumi dan dampaknya dikeluarkan oleh IPCC (The Intergovernmental Panel on Climate Change). Fakta-fakta tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Rata-rata kenaikan temperatur global sejak 1906 – 2005 adalah 0.74˚C
  • Sebagian besar kenaikan tersebut mengalami peningkatan yang tajam sejak pertengahan abad ke-20 yang disebabkan oleh perilaku manusia yang melepaskan Gas Rumah Kaca (GRK) seperti karbondioksida (CO2)dan pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, minyak tanah, avtur, dll.
  • CO2 di atmosfer pada tahun 2005 mengalami peningkatan yang tajam dari 650,000 tahun sebelumnya
  • 11 dari 12 tahun terpanas sejak 1850 terjadi antara 1995 – 2006;
  • Dengan pola pelepasan emisi sekarang, kita akan menuju kenaikan pemanasan global 2˚C, bahkan lebih.
2.PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL

Sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Wujud sebagian besar energi tersebut adalah dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya yang tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya ke atmosfer. Sebagian dari panas ini keluar sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah GRK antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

GRK berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin (mencapai -180 C) sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Dalam laporan IPCC (2007), komposisi GRK penyebab pemanasan global dapat dilihat dalam diagram 1.

Diagram 1: komposisi sebab pemanasan



Diagram ini memperlihatkan komposisi sebab pemanasan global yang paling utama berasal pembakaran bahan bakar fossil seperti BBM yang menghasilkan gas CO2. Selain itu juga berasal dari deforestasi dan pembusukan biomasa. Hampir sebagian besar pelepasan GRK tersebut dipicu oleh aktivitas manusia, antara lain semakin meningkatnya pertumbuhan industri dan tingkat konsumsi yang menggunakan bahan bakar fosil, pembakaran hutan dan alihfungsi lahan yang sangat pesat

3. DAMPAK PEMANASAN GLOBAL

Sebagian dampak pemanasan global adalah sebagai berikut:

Cuaca

Pola cuaca di seluruh dunia sudah berubah, dimana sejumlah wilayah mengalami curah hujan yang lebih tinggi sementara di wilayah lain terjadi kekeringan yang panjang, khususnya di kawasan tropis dan sub-tropis

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Tinggi muka laut

Menurut IPCC, Samudera menyerap panas atmosfir mengakibatkan perluasan air laut dan kenaikan permukaan laut. Selain itu, temperatur rata-rata di kutub meningkat dua kali lipat dari rata-rata temperatur global pada 100 tahun terakhir dan berdampak pada meluasnya lautan arctic akibat mulai mencairnya lapisan es arctic, sehingga permukaan laut secara keseluruhan akan mengalami kenaikan tajam (lihat box 1)

Box 1: Level peningkatan air laut

Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades. Badan Riset Kelautan dan Perikanan Indonesia memperkirakan bahwa jika kondisi iklim global masih seperti saat ini maka 2000 pulau dari 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia akan tenggelam dalam 30 tahun mendatang

Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Sementara daratan pertanian digenangi banjir. Di Tanah Datar Sumatera Barat, banjir badang meluluhlantakan 270,5 hektar sawah warga, irigasi sepanjang 165 meter, menghancurkan 71 kolam, menghancurkan 12 unit kebun dan menghanyutkan 25 ekor sapi , 10 ekor kerbau, 131 ekor itik serta 25 ekor ayam, 22 rumah hancur, 35 rumah rusak berat, 34 rumah rusak sedang, 8 rumah rusak ringan, 2 mesjid rusak berat, 2 musholla rusak berat. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 75 miliar.

Di Pantai utara Jawa, 29.847 ha area pertanian di sebagian wilayah pantai utara Jawa Barat kekurangan air. Salah satu sebabnya adalah mundurnya jadwal tanam karena pergeseran musim. Kekurangan air terjadi di sekitar 8.280 ha lahan sawah di daerah Bekasi. Di Kabupaten Karawang meliputi 11.252 ha sawah, 4.815 ha di Subang, serta sekitar 5.500 ha di Indramayu bagian barat (Kompas, 10 Juli 2006). Sementara puluhan waduk dan sungai sebagai sumber air untuk pertanian di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, terus menyusut (Kompas 12 Juli 2006).

Pada tahun 2010, lebih dari 2.000 hektare (ha) tanaman tembakau siap panen mengalami puso atau gagal panen di Sampang, Madura. Hujan deras yang kerap turun dalam beberapa bulan terakhir membuat daun tembakau rusak. Akibatnya, hasil produksi 2010 hanya 394 ton, drop 57% dibanding tahun 2009 (Vivanews, Minggu, 3 Oktober 2010, 14:08 WIB). Di Kalimantan Selatan, bulan April 2010, sembilan kabupaten dilanda banjir. Tercatat tanaman padi yang tenggelam seluas 14.990 hektare dan sebanyak 3.448 hektare di antaranya puso. Khusus di Kabupaten Banjar juga terdapat sekitar 60 ton persemaian petani yang tenggelam akibat banjir dan sekitar 17,5 ton yang puso.

Kesehatan Manusia

Jika kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi mencapai 2 ˚C maka dampak-dampak yang akan terjadi adalah:

  • Tahun 2080, akan bertambah 1.8 milyar orang yang menderita kekurangan air bersih;
  • Tahun 2080, lebih dari 600 juta orang akan mengalami malnutrisi
  • Pada tahun yang sama, 200-400 juta orang akan terserang malaria;

Jika temperatur, mengalami kenaikan hingga 3˚C, 330 juta orang akan terusir secara permanen maupun temporer akibat banjir, termasuk 70juta orang di Bangladesh, 6 juta di dataran rendah mesir dan 22 juta di Vietnam.

Menurut Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), 90% bencana yang terjadi di seluruh dunia terkait dengan perubahan iklim. Banjir disebabkan oleh curah hujan yang ekstrim akibat gangguan cuaca, seperti siklon tropis. Kekeringan yang panjang dan ekstrim juga mengancam keamanan pangan dunia. Dari sana pengungsi membludak yang diikuti oleh berbagai masalah sosial lainnya.

Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sepanjang 2007 ada 4 korban meninggal akibat demam berdarah. Jumlah tersebut menjadi 7 orang pada 2008 (Tempointeraktif, 20 Desember 2008). Penyakit chikungunya dan flu burung juga menyerang banyak kota dan desa. Sementara flu babi masih mengintai dan sudah makan korban di Jakarta (Vivanews, Senin, 29 Juni 2009, 13:44 WIB).  Di Balikpapan, demam berdarah merajalela (Post Metro Balikpapan,   Selasa, 26 Oktober 2010).

Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah  pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Di Indonesia dampak pemanasan global sudah mulai terasa, misalnya, banjir yang rutin dari tahun ke tahun dan munculnya jenis-jenis penyakit baru. Selain itu, Badan Riset Kelautan dan Perikanan memperkirakan bahwa jika kondisi iklim global masih seperti sa’at ini maka 2000 pulau dari 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia akan tenggelam dalam 30 tahun mendatang.
4. MENGATASI PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global sudah disadari sejak lama. Karena itu Dampak pemanasan global sudah mulai nampak. Karena itu, pada tahun 1992 disepakati United Nations Convention on Climate Change. Untuk mendukung konvensi itu maka dibentuk forum yang disebut Conference of Parties (COP) sebagai wadah bagi negara-negara pihak untuk membahas berbagai mekanisme yang diperlukan guna  mengatasi pemanasan global.  Paling tidak, ada tiga hal yang harus dilakukan negara-negara industri melalui berbagai mekanisme tersebut: Pertama, menstabilisasi emisi karbon untuk menghindari kenaikan temperatur bumi hingga 2˚C. Kedua, memotong emisi karbon hingga 40% pada tahun 2020 dan paling tidak 80% pada tahun 2050. Ketiga, membayar ke Negara-negara miskin untuk mengembangkan upaya-upaya pengurangan emisi dan adaptasi atas dampak pemanasan global.

5. HUTAN dan PEMANASAN GLOBAL

Mengatasi pemanasan global juga tidak lepas dari isu kehutanan. Meskipun perdebatan mekanismenya masih alot, namun sejumlah temuan saintifik membuktikan bahwa hutan memiliki peran penting dalam mengatasi pemanasan global. Dalam laporan Stern ke Kerajaan Inggris, disebutkan bahwa mengurangi emisi dari deforestasi merupakan opsi mitigasi yang dari segi biaya efisien.[i] Karena itu proyek menjaga dan melestarikan hutan menjadi salah satu isu utama dalam perundingan perubahan iklim, terutama sejak COP 7.

Hutan menjadi penting dalam perubahan iklim karena perannya dalam menyerap dan menyimpan karbon. Secara alamiah, jumlah karbon yang ditimbun dalam tanaman seperti pohon-pohonan sangat tergantung pada jenis dan sifat pohon itu sendiri. Proses penimbunannya disebut sebagai proses sekuestrasi (carbon sequestration) yaitu proses penyimpanan karbon di dalam tanaman yang sedang tumbuh. Tanaman atau pohon di hutan dianggap berfungsi sebagai tempat penimbunan atau pengendapan karbon (rosot karbon atau carbon sink). Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman umumnya pohon-pohon kayu merupakan penyerap karbon yang paling besar.

Sebaliknya, cadangan karbon dalam hutan alam akan berkurang jika hutan alam diubah menjadi perkebunan, lahan pertanian dan berbagai bentuk aktivitas eksploitatif lainnya. Peristiwa pembakaran dan kebakaran hutan menyebabkan pelepasan karbon ke udara yang sangat besar. Aktivitas itu pula yang menjadi salah satu penyumbang besarnya emisi agregat (total) tahunan dari Indonesia.

Karena itu, skema mengatasi perubahan iklim banyak yang berkutat pada upaya menjaga kelestarian hutan dengan menekan laju maupun melarang alihfungsi kawasan hutan. Skema inilah yang di kemudian hari disebut dengan REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degdradation).

Dalam sejarah perdebatan perubahan iklim, topik REDD sebetulnya tidak ada dalam skema Protokol Kyoto, yang merupakan implementasi konvensi yang mengikat secara hukum. Namun, secara substantif, isu ini  sebetulnya sudah tertera dalam konvensi, Protokol Kyoto maupun Marrakech Accords sebagai petunjuk pelaksanaan Protokol Kyoto. Topik REDD baru menjadi pembahasan serius dalam perundingan berawal dari proposal Papua Nugini dan Kosta Rika dalam Conference of Parties 11 di Montreal tahun 2005 yang melihat perlunya upaya serius mengatasi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Dalam proposal tersebut PNG dan Costra Rica mengajukan dua opsi kerangka hukum ke depan: Pertama, membuat protokol tambahan yang khusus mengatur emisi dari deforestasi dan degradasi. Kedua, mengembangkan lebih lanjut substansi yang sudah tercantum dalam Protokol Kyoto dan Marrakech Accords dengan salah satu tambahan penting yakni proyek kredit karbon harus dibuat secara spesifik untuk isu ini.  Dalam bahasa yang lain, negara yang ingin dan mampu mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan seharusnya diberikan kompensasi secara finansial karena sudah melakukan upaya itu dengan menahan diri tidak melakukan konversi hutan untuk pertumbuhan ekonomi.

Dalam perkembangan selanjutnya, isu pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi, disingkat REDD, mendapat kerangka hukum awal dalam COP 13 di Bali, 2007. Keputusan Bali, disebut dengan Bali Action Plan (BAP), antara lain memberikan dasar hukum pengembangan skema dan pilot project REDD saat ini. Dalam paragraph 1 b(iii) BAP disebutkan bahwa:

Tindakan mitigasi internasional/nasional mencakup deforestasi dan degradasi tapi juga menyangkut konservasi, sustainable management of forest (SMF), perluasan stok karbon di negara-negara berkembang

Dalam COP 14, di Poznan, REDD kemudian berubah menjadi REDD plus yang mencakup Deforestasi, Degradasi, konservasi, sustainable management of forest (SMF) dan perluasan stok karbon. Cakupan ini masih terus diperdebatkan hingga saat ini.

END NOTES

——————————————————————————————————–

Semua informasi tentang definisi, sebab dan akibat pemanasan global dapat dilihat di IPCC Climate Change 2007 report, http://www.ipcc.ch/ipccreports/ar4-syr.htm, hal 96-121

Lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

IPCC 2007, op cit.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

IPCC, 2007, op cit.

Allison Doig, Desember 2008, Setting the Bar High at Poznan, Christian Aid, United Kingdom

Kompas, Rabu 25 Juni 2008

Antara, 27 Februari 2008. lihat http://www.antara.co.id

Allison Doig, op cit.

John Lovett & Margaret Skutsch, Having Our Climate Cake and Eating It, University of Twente, The Netherlands lihat di http://www.communitycarbonforestry.org

Warta Kebijakan CIFOR, 8 Februari 2003

Submission by the Governments of Papua New Guinea and Costa Rica, Reducing Emission from Deforestation in Developing Countries: Approaches to Stimulate Action, Eleventh Conference of the Parties to the UNFCCC: Agenda Item # 6, lihat http://unfccc.int/documentation/documents/advanced_search/items/3594.php?rec=j&priref=600003611#beg, download 15 Juni 2009 di Jakarta