Kearifan Lokal Hadapi Perubahan Iklim

courtesy : http://regional.kompas.com/

24 Maret 2011

Kearifan lokal penting untuk dimanfaatkan guna menghadapi perubahan iklim. Kearifan lokal telah ada dan menyatu dengan masyarakat, hanya saja perlu lebih dioptimalkan penerapannya untuk menghadapi perubahan iklim.

“Perubahan iklim sebenarnya sudah terjadi sejak berabad-abad lalu, hanya saja dialami oleh generasi manusia yang berbeda-beda,” ungkap Sekretaris Jenderal Ahli Lingkungan Hidup Indonesia Prabang Setyono di sela pemaparan hasil studi Persepsi Masyarakat terhadap Perubahan Iklim di yang digelar lembaga swadaya masyarakat Gita Pertiwi, Surakarta, Kamis (24/3/2011) di Solo, Jawa Tengah.

Untuk membuktikan adanya perubahan iklim, diperlukan pengamatan selama 30 tahun. Perubahan iklim yang diketahui saat ini, kata Prabang, berdasarkan perbandingan data-data di Amerika Serikat dan Eropa yang tersedia lengkap.

“Kearifan lokal sudah ada sejak zaman nenek moyang kita yang juga merupakan cara adaptasi pada zamannya masing-masing yang terus diturunkan hingga saat ini kepada kita,” kata Prabang.

Oleh karena sifat kearifan lokal yang khas pada setiap daerah, tidak bisa dibuat kebijakan yang seragam untuk menerapkan kearifan lokal tersebut. Setiap pemerintah daerah harus menggali dan mengoptimalkan kearifan lokal masing-masing untuk diterapkan di daerahnya.

“Jangan sampai nanti keluar kebijakan yang seragam dari pemerintah pusat yang harus diterapkan pada semua daerah. Padahal kearifan lokal itu hanya cocok di daerah tertentu,” kata Ketua Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu.

Salah satu contoh kearifan lokal di bidang pertanian, seperti yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yakni menanam padi merah (slegereng) yang tahan di tanah dengan kadar air rendah, tahan hama penyakit, dan tumbuh di sawah maupun tegalan. Masyarakat setempat pun menyukai makan beras dari padi merah itu.

“Petani setempat hendaknya tidak dipaksa menanam varietas lain meskipun itu katanya tahan hama atau bisa hidup di tanah kering,” kata Suparlan, peneliti dari Gita Pertiwi.

Prabang menambahkan, petani barangkali tidak memahami istilah perubahan iklim. Namun petani dengan sendirinya akan mencari cara untuk mengatasi tantangan baru yang dihadapinya, termasuk sesuatu yang disebut perubahan iklim.

“Adaptasi terhadap tantangan itu tidak sedikit yang bersumber dari kearifan lokal. Pemerintah harus punya inventarisasi terhadap kearifan lokal di tiap daerah. Peran dinas pertanian setempat untuk menggali dan mengoptimalkan pemanfaatan kearifan lokal tersebut untuk menghadapi perubahan iklim,” tutur Prabang.