Tahun 2500 Bumi tidak Nyaman Dihuni

Penulis : Agus Utantoro
Sumber : mediaindonesia.com
Senin, 11 April 2011 17:24 WIB
Pemanasan global telah menaikkan suhu bumi rata-rata 0,2 derajat Celsius per 10 tahun atau 2 derajat Celsiun per 100 tahun.

Kenaikan itu menurut Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Prof Jumina kepada wartawan lebih lanjut mengatakan, pemanasan global juga telah menyebabkan naiknya permukaan air laut yang mencapai rata-rata 20 cm per 100 tahun.

Tanpa ada upaya serius dan sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfir, ujarnya, bumi, maka suhu rata-rata permukaan bumi yang pada tahun 2010 berada pada kisaran 14,6 derajat Celsius akan naik menjadi sekitar 25 derajat Celsius pada tahun 2500.

Tingkat suhu seperti itu lanjutnya, bumi menjadi tempat yang tidak nyamanuntuk manusia maupun hewan serta tumbuhan. “Bahkan mungkin manusia tidak bisa bertahan hidup,” katanya.

Dikatakan, terjadinya peningkatan emisi CO2 secara terus menerus itulah yang menyebabkan para pakar lingkungan merasa sangat prihatin. Usaha untuk mengurangi emisi CO2 pun dilakukan, antara lain melalui penandatanganan
Protokol Kyoto pada 1999.

“Sayang, Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar kedua di dunia hingga saat ini belum bersedia menandatangani protokol tersebut. Begitu pula China yang merupakan penghasil emisi CO2 terbesar di dunia,” ujarnya.

Emisi CO2 pada 1990 mencapai 21,6 miliar ton, meningkat menjadi 23,9 miliar ton pada 2001 dan meningkat lagi menjadi 29,3 miliar ton pada 2010.

Pada 2025 diperkirakan akan menjadi 37,1 miliar ton. China menjadipenyumbang CO2 terbesar di dunia dengan produksi 6,5 miliar
ton dan Amerika Serikat di urutan kedua dengan5,8 miliar ton, sementara Indonesia menyumbang 1,4 miliar ton.

Namun berbeda dengan China dan Amerika Serikat yang sumber utama CO2-nya berasal dari sektor energi khususnya minyak bumi dan batu bara, Indonesia sumber utamanya berasal dari alih guna lahan dan kehutanan yang mencapai 46%, sektor energi 24%, lahan gambut 12% dan limbah pertanian serta rumah tangga sebesar 11%.

Dengan demikian, demi mengurangi tingkat emisi CO2 domestik dan menekan laju terjadinya pemanasan global maka penerapan konsep energi bersih, clean energy, sangat diperlukan.

“Energi bersih bisa diartikan sebagai energi ramah lingkungan, atau energi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,” jelas Jumina.

Bila Indonesia dapat menerapkan konsep energi bersih maka sistem energi yang dibangun bukan hanya menghasilkan ketahanan energi dalam arti terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan energi nasional, tapi juga dapat mewujudkan terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan lestari.

“Sehingga sistem energi yang diterapkan akan bervisi jauh ke depan tanpa harus merampas hak dasar generasi penerus,” katanya. (AU/OL-3)