Menteri Kehutanan Didesak Tolak Jalan Tembus Kerinci Seblat

sumber : mediaindonesia.com

Rabu, 20 April 2011

Forum HarimauKita minta Menteri Kehutanan (Menhut) menolak rencana pembangunan empat ruas jalan evakuasi bencana alam yang menembus Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Forum HarimauKita melihat rencana pembangunan empat ruas jalan evakuasi bencana alam menembus Taman Nasional Kerinci Seblat mengancam kelestarian harimau sumatra.

“Lokasi rencana tersebut merupakan habitat perkembangbiakan harimau sumatra dan merupakan kawasan perlindungan terpenting Indonesia yang diakui dunia,” kata Ketua Forum HarimauKita Hariyo T Wibisono di Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/4).

Selain itu, kata Hariyo menjelaskan, perubahan fungsi lahan juga akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat sekitar karena sembilan kabupaten dan empat provinsi menggantungkan suplai air dari kawasan taman nasional tersebut. Pembuatan jalan yang membuka kawasan taman nasional itu juga meningkatkan potensi perambahan dan perusakan hutan, seperti pembalakan liar yang belum tentu dilakukan dan dinikmati oleh masyarakat lokal.

Ironisnya, ruas jalan yang seluruhnya berada di atas lempeng aktif patahan bumi dan di kaki gunung api yang sangat aktif itu justru akan meningkatkan risiko ancaman jika terjadi letusan gunung api. Oleh karena itu, Forum HarimauKita mengajukan rekomendasi yang berisi tiga butir kepada Menteri Kehutanan, yaitu peninjauan ulang rencana pembangunan jalan evakuasi dan tidak memberikan izin kepada seluruh pemerintah daerah yang membangun jalan memotong kawasan Taman Nasional.

Menhut diminta mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap pihak yang sudah membangun jalan tanpa izin di kawasan Taman Nasional. Hariyo mengatakan forum telah mengirimkan rekomendasi tersebut kepada Menteri Kehutanan pada Senin (18/4), baik melalui surat pos maupun surat elektronik, yang ditembuskan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Menteri Sosial dan Direktur Jenderal PHKA.

Sebagaimana informasi yang diterima Forum HarimauKita, rencana pembangunan keempat ruas jalan tersebut diusulkan dengan alasan untuk menambah rute evakuasi bencana alam gempa bumi dan banjir yang menurut pemkab Kerinci sering terjadi di wilayah Kabupaten Kerinci. Total panjang keempat ruas jalan tembus tersebut kurang 100 kilometer dengan lebar jalan delapan meter.

Jalan tembus akan dibangun mulai dari wilayah Taman Nasional sebelah timur di Jambi menembus hutan sampai dengan wilayah taman nasional sebelah barat di Bengkulu.

Forum HarimauKita menilai rencana pembangunan jalan tembut tersebut tidak sesuai dengan UU No. 26 tahun 2006 tentang Penataan Ruang karena kawasan ini dicantumkan sebagai Kawasan Strategis Nasional, yang juga telah ditetapkan Bappenas sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan dan keragaman hayati Indonesia.

Sedangkan Yoan Dinata, Staf Ahli Monitoring Koridor Harimau Sumatera dari Fauna and Flora International (FFI) mengatakan pembangunan jalan hanya akan menambah akses para pemburu dan pembalak liar ke dalam kawasan yang saat ini sudah menghadapi banyak tekanan alih fungsi lahan untuk perkebunan liar.

“Adanya isu pembukaan akses jalan ini telah memicu terjadinya perambahan lahan di kawasan Taman Nasional seluas ?500 hektare oleh oknum masyarakat sekitar,” kata Yoan.

Berdasarkan survei tahun 2006-2010, tercatat bahwa populasi harimau sumatra berjumlah 34-38 ekor yang hidup di kawasan yang akan dibangun jalan tersebut.  Bahkan dari hasil penelitian Fauna & Flora International (FFI) menggunakan kamera penjebak di kawasan hutan Sipurak bagian tengah ditemukan adanya pertambahan populasi 2 ekor sejak tahun 2008.

Forum HarimauKita menilai jika rencana tersebut tetap berlanjut, hal itu akan berpotensi menurunkan kredibilitas Indonesia di mata dunia internasional mengingat TNKS merupakan kawasan prioritas dunia sebagai Tiger Conservation Landscape, sekaligus kawasan prioritas Kementerian Kehutanan untuk perlindungan harimau Sumatera sebagaimana tercantum dalam dokumen National Tiger Recovery Program.

Dokumen tersebut merupakan bagian dari Global Tiger Recovery Program yang ditandatangi oleh 13 negara yang memiliki harimau, termasuk Pemerintah Indonesia dalam International Tiger Meeting di St. Pittersburg Rusia November 2010 lalu.

Selain sebagai habitat penting harimau sumatra, kawasan tersebut juga menjadi tempat tinggal beberapa hewan terancam punah seperti gajah dan badak sumatra, kijang gunung sumatra, macan dahan endemik sumatra, dan burung tohtor sumatra yang merupakan burung paling langka di Sumatera.

Forum HarimauKita merupakan forum yang mewadahi para aktivis dan pemerhati konservasi harimau Sumatera dari 28 institusi baik pemerintah maupun non-pemerintah. (Ant/OL-2)