Seribu Anak Ikuti Ritual Ngrekso Bumi

sumber : mediaindonesia.com

22 april 2011

Sekitar 1.000 anak usia dini lintas agama dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti ritual merawat bumi atau “Ngrekso lan Ngemonah Bumi” dalam memperingati Hari Bumi di Bantul, Jumat (22/4).

Kegiatan yang mengusung tema Meretas Kreativitas Seni Budaya Anak Usia Dini Tuk Indonesia itu, berlangsung di halaman kantor Kecamatan Pajangan.

“Kegiatan yang juga diikuti para orang tua dari anak-anak tersebut, dimaksudkan untuk menanamkan dan menggelorakan semangat cinta bumi, perdamaian dan kasih sayang, serta gemar membaca di kalangan anak usia dini,” kata ketua panitia kegiatan, Ryan Budi Nuryanto.

Menurut dia, usia 0 hingga enam tahun merupakan usia emas bagi perkembangan kepribadian manusia, sehingga diperlukan bimbingan pendidikan sebagai motivasi nalar otak untuk menciptakan kepribadian yang tangguh dan mandiri.

“Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memupuk rasa kasih sayang terhadap sesama dan alam sekitar setiap detiknya, karena alam bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak-cucu,” katanya.

Ritual tersebut dibuka dengan performance art yang mengisahkan tentang kembalinya ruh bumi yang diwujudkan dalam bentuk gunungan “lempung” (tanah liat) berisi uang receh.

Kemudian bumi digambarkan sedang mengalami kegelisahan yang disimbulkan melalui tarian barongsai dengan ular naga yang meliuk-liuk. Selanjutnya kegelisahan bumi itu berhasil didamaikan dengan tarian lilin dan tarian “sholawatan”.

Setelah itu, gunungan bumi dibelah, dan uang receh yang ada di dalamnya diperebutkan oleh anak-anak.

Sedangkan tanah lempung tersebut oleh anak-anak kemudian dijadikan patung, peralatan dapur serta benda-benda lainnya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pengetahuan kepada anak-anak, bahwa apapun bentuknya bencana alam pasti akan membawa hikmah dan berkah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut juga diadakan berbagai lomba di antaranya mewarnai motif batik, lomba berdoa untuk kedamaian bumi lintas agama, lomba kreativitas lempung, bercerita, dan lomba membaca gambar budaya, serta lomba “nembang” atau menyanyikan lagu “dolanan” (permainan) anak. Juga digelar pentas seni budaya dan gerakan donasi buku.