Pembangunan di Darat Menggusur Pasar Terapung

sumber : tanahair.kompas.com

8 Mei 2011

Oleh: A Handoko dan Defri Werdiono
    Budaya sungai masyarakat Kalimantan Selatan pada masa silam telah melahirkan pasar terapung. Namun, pembangunan di darat perlahan tetapi pasti menggusur peran pasar terapung sebagai pusat pertemuan masyarakat dari berbagai kelas sosial.

Matahari belum tampak di Sungai Barito, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ketika perahu-perahu bergerak perlahan menuju Alalak. Malam masih menyisakan gelap. Di anak Sungai Barito itu, perahu-perahu saling mendekat, penumpangnya saling menyapa. Pembicaraan hangat antarpenumpang menandai dimulainya aktivitas pasar terapung, pasar yang terbentuk secara simbolis dari interaksi masyarakat dari perahu masing-masing.

Kompas/Yuniadhi Agung
Aktivitas perdagangan di Pasar Apung, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (12/3). Aktivitas jual-beli di pasar apung kini menurun drastis akibat semakin banyaknya pasar di darat.

Di Alalak, ada beragam jenis perahu yang dipakai. Ada perahu tradisional kecil menggunakan dayung dengan penerangan lampu minyak, ada pula perahu bermesin dengan penerangan bohlam. Perahu-perahu kecil lain yang hilir mudik di Alalak menciptakan gelombang kecil yang mengayun-ayun perahu-perahu yang sedang digunakan untuk bertransaksi.

Komoditas yang diperjualbelikan di pasar terapung umumnya adalah hasil bumi, mulai dari pisang, jeruk siam banjar, sampai berbagai jenis sayuran. Selain jual-beli menggunakan uang, ada juga pembeli dan penjual yang bertransaksi dengan cara barter.

Salah seorang pedagang pasar terapung, Ummah (50), mengatakan, sebagian besar barang yang dijual di pasar terapung berasal dari daerah penghasil di sekitar hulu sungai. ”Hasil bumi itu juga dikirim ke Banjarmasin dengan perahu,” ujar Ummah yang sudah belasan tahun berjualan di pasar terapung Alalak.

Dibandingkan dengan 20 tahun lalu, menurut Ummah, ada perbedaan karakter pembeli. ”Dahulu pembeli di pasar terapung kebanyakan untuk keperluan dapur. Sekarang justru orang seperti itu makin sedikit, lebih banyak pedagang yang akan mengecerkan di perumahan atau berdagang lagi di pasar-pasar di darat,” katanya.

Galuh (48), pembeli di pasar terapung yang hendak menjual barang-barang di darat, mengatakan, harga barang di pasar terapung lebih murah. ”Buah nangka muda selisih harganya bisa sampai Rp 1.000 per buah dibandingkan harga di darat. Jadi, saya lebih untung,” ujarnya. Transaksi di Alalak berakhir sekitar pukul 08.00, saat sinar matahari mulai menyengat.

Pasar terapung Alalak adalah pergeseran tempat transaksi yang semula muncul di Muara Kuin, Sungai Barito, tahun 1950. Aktivitas pasar terapung di Muara Kuin terganggu oleh hilir mudik kapal-kapal besar yang menciptakan gelombang agak tinggi. Gelombang ini menyebabkan transaksi di pasar terapung sulit karena perahu terombang-ambing.

Di Muara Kuin, transaksi di pasar terapung masih ada, tetapi terbagi dua tempat, yakni untuk komoditas hasil bumi dan hasil laut tangkapan nelayan. Jumlah pedagang di kedua pasar terapung di Muara Kuin itu 85 orang. Di Alalak, jumlah pedagang tak lebih dari 40 orang.

Jumlah pedagang di Muara Kuin dan Alalak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 20 tahun lalu. Menurut Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Banjarmasin, jumlah pedagang terus turun sejak 1980. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Banjarmasin Noor Hasan mengatakan, sebelum 1980 jumlah pedagang di Muara Kuin lebih dari 200 orang, tetapi kini tinggal 85 orang.
Bersejarah
Pasar terapung Muara Kuin adalah pasar yang legendaris. Pasar itu ada sejak Kerajaan Banjar berdiri tahun 1526. Namun, ada versi lain yang meyakini pasar Muara Kuin sudah ada jauh sebelum Kerajaan Banjar berdiri.

Namun, keduanya bermuara sama, yakni pasar terapung terbentuk dari tradisi berperahu penduduk Kalimantan Selatan.

Budayawan dan pemerhati bahasa Banjar, Djantera Kawi, mengatakan, dulu hampir semua pasar di Banjarmasin berada di tepi sungai. ”Dulu sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Sarana transportasi utama warga adalah sungai karena belum banyak jalan.”

Selain di Muara Kuin, pasar terapung juga terbentuk di Lokbaintan di Sungai Martapura, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Jumlah pedagang di Lokbaintan kini tinggal 200-an orang. Tak ada data yang pasti berapa jumlah pedagang sebelumnya. Namun, banyak yang memperkirakan dulu jumlahnya dua kali lipat.

Kompas/Defri Werdiono
Sejumlah pedagang di Pasar Apung Lokbaintan, di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, nampak membaur dengan pembeli dan wisatawan, pertengahan Maret lalu. Pasar yang berada di Sungai Martapura ini menjadi salah satu alternatif obyek wisata di Banjarmasin dan sekitarnya, selain Pasar Apung Muara Kuin di dekat Sungai Barito.

Dosen Program Pendidikan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Hairiyadi, menambahkan, pasar apung Lokbaintan terbentuk setelah Kerajaan Banjar berdiri. Posisi Lokbaintan lebih dekat dengan pusat produksi komoditas pertanian daripada Muara Kuin. ”Dari Lokbaintan, sebagian hasil bumi dikirim ke Muara Kuin. Letaknya yang dekat dengan pusat produksi komoditas pertanian itu adalah salah satu penyebab pasar apung Lokbaintan masih lebih ramai,” kata Hairiyadi.

Warisan peradaban sungai makin surut, tergeser oleh kemudahan akses di darat. Di pasar terapung Muara Kuin dan Alalak, pada akhir pekan, aktivitas justru didominasi para wisatawan. Sayangnya, kebanyakan wisatawan sekadar mengagumi fenomena transaksi unik di atas perahu, tetapi tak mendongkrak transaksi di pasar apung.

Pembangunan yang pesat di darat cenderung tak memerhatikan keberadaan sungai-sungai kecil sehingga akses ke Barito melalui sungai makin sulit. Banyak sungai kecil di Kota Banjarmasin yang saat ini tak bisa lagi dilalui perahu. Penyebabnya, alur sungai tertutup jembatan beton serta adanya penyempitan atau pendangkalan sungai. ”Dulu, jumlah sungai di Kota Banjarmasin diperkirakan lebih dari 400 buah, tetapi sekarang tinggal 100 saja,” kata Djantera.

Salah satunya, sungai kecil di Jalan Letjen Sutoyo dari arah Pelabuhan Trisakti menuju Masjid Raya Sabilal Muhtadin. ”Tahun 1970, sungai itu masih bisa dilalui perahu, tetapi sekarang tidak bisa lagi,” ujarnya.

Tanpa mempertimbangkan nilai strategis sungai sebagai aset yang berharga dalam membangun kawasan Banjarmasin, umur pasar terapung barangkali tak akan lama lagi.