Gusti M Hatta Minta Daerah Data Keragaman Hayati

sumber : mediaindonesia.com

24 Mei 2011

Setiap pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota diminta segera melakukan pendataan keragaman hayati yang mereka dimiliki.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti M Hatta menyatakan, hal itu bertujuan untuk melindungi kekayaan keanekaragaman hayati agar tidak dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Tiap-tiap daerah harus mendata kehati (keanekaragaman hayati) agar tidak tercuri,” kata Gusti M Hatta dalam acara peringatan Hari Keanekaragaman Hayati di Taman Cibodas, Pangrango, Bogor, Jawa Barat.

Selain itu, sambung Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat itu, dengan pendataan tersebut, maka daerah akan mendapatkan pembagian keuntungan (benefit sharing) dari setiap hayati yang digunakan dan dimanfaatkan.

“Setiap derivatif (turunanan) dari penggunaan kehati, maka daerah akan mendapatkan keuntungan”.

Diterangkan lebih lanjut, kepastian mendapatkan benefit sharing itu didapat setelah Indonesia ikut menandatangani. Protokol Nagoya pada 11 Mei di Markas Besar PBB, New York bersama tujuh negara lainnya yaitu Guatemala, India, Jepang, Norwegia, Afrika Selatan, Swiss dan Tunisia.

Protokol Nagoya akan menjadi instrumen penting yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya genetik dan menghentikan praktik biopiracy (pencurian sumber daya genetik), khususnya bagi Indonesia yang merupakan negara mega biodiversity kedua di dunia.

Tahap terpenting setelah ditandatanganinya adalah diadopsinya Protokol Nagoya setelah itu ditindaklanjuti dengan ratifikasi.
Karena itulah, saat ini, Kementerian Lingkungan Hidup tengah fokus untuk membangun Taman Kehati di sejumlah daerah. Seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara.

“Selanjutnya akan dirampungkan untuk daerah Sumatra Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, dan daerah lainnya.”

Tujuan pembangunan Taman Kehati, terang Gusti M Hatta, untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati yang jumlahnya sangat banyak.
Apalagi, jenis dan bentuk karakteristik hayati setiap daerah sangat berbeda satu dengan lainnya.

Untuk Asia Tenggara, keberadaan Taman Kehati terbilang sangat jarang. “Apalagi untuk tingkat dunia. Indonesia sebagai pemilik mega biodiversity nomor dua di dunia harus menjaganya (kehati). Jangan sampe rusak,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua LIPI Lukman Hakim menyatakan, keberadaan pusat pemanfaatan pengayakaan kehati sangat penting. “Itu sebagai back up,” katanya.

Untuk menyelamatkan keeagaman hayati, kata Lukman, diperlukan usaha bersama. Seperti melalui pendekatan ekoregion. Dengan begitu kita dapat membedakan karakter. Karena flora, fauna, dan alam dapat diinventarisasi.

Tampak hadir dalam acara tersebut Menteri Kehutanan, Wakil Bupati Cianjur, Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Bupati Sukabumi.