Meru Betiri, dari Kebun Karet ke Konservasi

sumber : kompas.com

23 Mei 2011

Oleh Siwi Yunita Cahyaningrum  dan Dody Wisnu Pribadi 

Dari kekayaan flora dan fauna, Meru Betiri membawa cerita kemakmuran dari abad ke abad. Secuil hutan di Jawa bagian selatan ini memakmurkan manusia dari kekayaan tanaman obat, perkebunan, hingga perannya dalam perdagangan karbon dunia.
Harta karun” Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang berlokasi di Jember, Jawa Timur, itu sudah terlihat sejak awal kami menelusuri jalur Sarongan-Sukamade dengan mobil 4WD akhir Maret lalu.
Pohon kluwak, ketapang, asem, dan pepohonan lain sebesar rentangan tangan berpadu dengan perdu dan lilitan rotan jawa menghiasi perjalanan selama dua jam perjalanan. Sesekali gerombolan monyet ekor panjang terlihat bergelantungan di pepohonan mencari makan di pohon cermai.
Selain monyet, kawasan ini juga jadi habitat sejumlah hewan langka. Penyu adalah satwakhas Meru Betiri. Penyu-penyu langka seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) ditangkarkan di Pantai Sukamade, ujung timur Meru Betiri. “Hanya di Pantai Sukamade penyu-penyu mau bertelur. Pantai ini memang habitat mereka sejak dulu,” kata Aulya (20), mahasiswa Institut Pertanian Bogor, peneliti penyu.
Kami bertemu dengan Aulya ketika ia sibuk berebut telur penyu dengan Chelonia mydas, penyu hijau sebesar wajan berdiameter 50 sentimeter. Aulya kerepotan merogoh telur yang sedang ditimbun sang induk di tepi Pantai Sukamade.
Beberapa teman sekampusnya juga terpikat dengan Meru Betiri. Mereka meneliti satwa lain seperti banteng dan rusa. Kedua hewan langka itu juga berhabitat di hutan tropis dataran rendah dan berbagi dengan landak, macan tutul, tenggiling, dan kucing hutan.

Jauh sebelum masa sekarang, kekayaan satwa dan hutan alam Meru Betiri ini lebih dahulu memikat hati Pemerintah Belanda. Berdasarkan data sejarah TNMB, Belanda sudah menjadikan Meru Betiri sebagai kawasan yang wajib dilestarikan pada 1929. Pertimbangannya agar ekosistem hutan dan kekayaan alam di dalam hutan seluas 58.000 hektar tersebut terjaga. Termasuk kekayaan yang menjadi harta karun zaman itu dan juga zaman-zaman sesudahnya.
Meru Betiri juga menjadi pusat penelitian tanaman obat. Dari 518 jenis tumbuhan yang berhasil diinventarisasi TNMB, sebanyak 239 jenis di antaranya merupakan tanaman obat.
Ahli biologi Universitas Jember, Harry Sulistyowati, dua tahun terakhir menginventarisasi kekayaan biota Meru Betiri. Ia meneliti tumbuhan di lima blok wilayah Bandealit yang terletak di Meru Betiri bagian barat.
Hasil inventarisasi selama dua tahun itu mengejutkannya. “Hasilnya 75 persen tumbuhan di lima blok Meru Betiri adalah tumbuhan obat, beberapa bahkan langka,” katanya.
Tanaman endemis hutan Meru Betiri, yakni cabai jawa (Piper retrofractum vahl), adalah contoh tumbuhan obat langka itu. Berdasarkan penelitian yang dibukukan oleh TNMB, tanaman perdu ini digunakan sebagai pengobatan pasca-melahirkan dan diare.
Selain cabai hijau, masih banyak lagi jenis yang teridentifikasi sebagai tanaman obat. Di antaranya Pollia sp herba, yang bisa digunakan sebagai obat penyakit jantung; Vernonia cinerea atau sawi langit, yang bisa digunakan untuk mengobati kanker kelenjar getah bening; dan Lunasia amara Blanco atau sanrego, yang bisa dipakai sebagai aprodisiak.
Bidan Eko Jinem adalah warga yang merasakan langsung kekayaan tanaman obat Meru Betiri. Di halaman rumahnya di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Jember, Eko menanam berbagai tanaman hutan Meru Betiri.

Sejak 15 tahun lalu, ia membuat racikan tanaman obat. Racikan itu diberikan kepada pasiennya setelah melahirkan.

Truk yang mengangkut warga melintasi jalan setapak yang membelah Taman Nasional Meru Betiri, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (20/3). Jalan ini Satu-satunya akses yang menghubungkan Desa Sukamande

   Kebun karet di balik hutan
   Kekayaan Meru Betiri ternyata tak hanya cabai jawa atau penyu belimbing. Di balik lebatnya hutan Meru Betiri tersembunyi hamparan perkebunan karet tua peninggalan Belanda lengkap dengan perkampungannya.
Sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung, Meru Betiri memang telah dibuka oleh Belanda sebagai salah satu lokasi perkebunan baru.
Para pekerja perkebunan berasal dari Madura dan kawasan lain untuk mengelola perkebunan karet, kopi, dan kakao. Pabrik pengolahan karet pun dibuka untuk mengolah langsung hasil perkebunan. Produk perkebunan Meru Betiri selama itu turut meramaikan pasar Eropa.
Sisa kejayaan perkebunan Belanda itu masih terlacak meskipun perkebunan tak seluas dulu lagi. Luasan perkebunan menurut Manajer Produksi dan Tata Usaha di Perkebunan Sukamade Baru, Sulaiman, telah berkurang dari 1.000 hektar menjadi 600 hektar. Sekitar 400 hektar tidak bisa ditanami lagi karena perubahan alam, seperti tergerus sungai.
Pabrik karet pada abad ke-19 pun masih beroperasi. Warga yang dahulu bekerja di perkebunan, secara turun-temurun, mewariskan pekerjaan itu kepada anak cucu mereka. Kepala Sub-Bidang Tata Usaha TNMB Mustafa Imran Lubis mengatakan, wilayah perkebunan yang kini dikelola swasta itu sampai sekarang bertahan di tengah kawasan TNMB.Setelah lebih kurang seabad, kontrak hak guna usaha perkebunan akan berakhir 2023.
Bambang Darmodjo, Kepala TNMB, mengatakan, sejak setahun lalu diadakan pengukuran dampak pemanasan global di hutan tersebut. Meru Betiri kini menjadi aset penting perdagangan karbon dunia.