Produksi bibit sawit terhambat moratorium hutan

sumber : kontan

8 Juni 2011

Veri Nurhansyah Tragistina

JAKARTA. Terbitnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan (moratorium) Pemberian Izin
Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut pada 19 Mei kemarin ternyata tidak hanya mengancam
pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia. Inpres moratorium ini juga menghambat produksi bibit kelapa
sawit nasional.

Razak Purba, Manajer Bahan Tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, mengatakan gonjang-ganjing inpres moratorium
yang merebak dari awal tahun telah membuat produksi bibit sawit dari Januari hingga Mei ini stagnan.
Produksi bibit sawit PPKS misalnya, pada semester I-2011 sebanyak 15 juta butir bibit kelapa sawit. Jumlah ini tidak berubah dari
produksi pada semester I-2010 lalu.

Razak bilang, mandeknya produksi bibit sawit tidak hanya terjadi pada PPKS saja. Hal ini terjadi juga terjadi pada produksi bibit sawit
skala nasional. Hingga Mei kemarin, produksi bibit sawit nasional masih di level 70 juta butir.

Jumlah ini stagnan dari produksi bibit sawit semester I tahun lalu. Walhasil, produksi bibit sawit nasional tahun 2011 diprediksi akan
sama dengan tahun 2010 yaitu di angka 150 juta butir.

Razak bilang, PPKS dan produsen bibit sawit lainnya sebenarnya bisa memproduksi bibit lebih banyak dari itu. Dalam setahun,
kapasitas terpasang PPKS bisa mencapai 40 juta butir sawit. Sementara kapasitas terpasang nasional bisa mencapai 220 juta buitr.
Namun, para produsen bibit sawit memang menahan peningkatan produksinya karena permintaannya stagnan.

Banyak konsumen PPKS misalnya yang menurunkan dan bahkan menghentikan permintaan bibit sawit, karena tidak bisa melakukan
ekspansi lahan baru. “Melihat kondisi itu, kami tidak berani meningkatkan produksi bibit sawit,” ujar Razak kepada KONTAN, Rabu (8/
6).

Asmar Arsyad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), mengatakan pembukaan lahan barunya
dibatasi, otomatis permintaan bibit sawit dari petani akan berkurang. Informasi saja, jumlah lahan perkebunan rakyat pada tahun 2010
sebanyak 3,8 juta hektare.

Mandeknya permintaan ini diperparah dengan ketersediaan lahan induk (plasma nutfah) untuk pengembangan bibit sawit. Razak
bilang, PPKS dan produsen bibit lainnya kesulitan mencari lahan baru yang cocok untuk pengembangan bibit sawit.

Yuli Susanto, salah seorang penyemai bibit sawit di Kalimantan Selatan (Kalsel), mengatakan mandeknya permintaan juga dirasakan
oleh penyemai seperti dirinya. Ia mengaku permintaan bibit sawit hasil penyemaian stagnan di angka 16.000-17.000 pohon per bulan.
Jumlah ini tidak berubah sejak tahun 2010 lalu.