Bumi Merapi Belum Bisa Ditanami

sumber : antaranews.com

15 Juni 2011

Yogyakarta (ANTARA News) – Semangat menanam bibit pohon untuk menghijaukan kembali kawasan Gunung Merapi tampaknya harus tertunda, karena bibit yang sudah ditanam kini “enggan” tumbuh akibat kekeringan.

Camat Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Samsul Bakri mengimbau para relawan maupun donatur agar untuk sementara menunda penanaman bibit pohon di kawasan Merapi selama musim kemarau, karena saat ini banyak bibit yang sudah ditanam mati akibat kekeringan.

“Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanam bibit pohon, dan karena itu kami imbau para relawan maupun donatur menunda penanaman di kawasan Merapi. Kami sekarang sedang konsentrasi merawat tanaman yang sudah tertanam agar tidak mati,” katanya di Sleman, pekan lalu.

Menurut dia, donatur yang akan menanam bibit pohon di kawasan gunung itu dapat menitipkan dulu bibit tersebut kepada Tim Penghijauan lereng Merapi yang ada di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan.

“Bibit pohon akan ditampung, dan jika nanti kondisi alam sudah memungkinkan, atau sudah memasuki musim hujan, bibit tersebut akan ditanam di kawasan Merapi,” katanya.

Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Heri Suprapto mengatakan saat ini jutaan bibit tanaman penghijauan di kawasan Merapi mulai layu akibat kekeringan, setelah dua pekan lebih tidak turun hujan.

“Apalagi bibit pohon yang ditanam di kawasan atas yang lahannya terlanda lahar panas Merapi, hampir dipastikan kini semuanya layu, karena selain tidak ada hujan, kawasan setempat kondisinya berupa pasir yang masih panas, sehingga tanaman tidak akan kuat,” katanya.

Sedangkan bibit pohon yang ditanam di kawasan bawah, saat ini memang masih hidup, karena dirawat warga yang rumahnya dekat dengan lokasi penanaman.

“Saat ini selain tanaman itu harus disiram air secara rutin, juga dibutuhkan tanaman rumput di sekitar lokasi penanaman bibit pohon. Rumput ini nanti akan berfungsi menahan pasir dan peresapan air,” katanya.

Menurut dia, memasuki musim kemarau saat ini memang lebih baik menghentikan penanaman bibit pohon untuk sementara, karena cuaca tidak memungkinkan.

“Apalagi jika bibit yang ditanam masih relatif kecil, maka kecil sekali kemungkinan bisa hidup. Saat ini bantuan lebih baik diwujudkan dengan kegiatan rutin yaitu menyiram tanaman, pemupukan serta perawatan agar bibit pohon yang telah ditanam bisa hidup,” katanya.

Terancam mati
Puluhan ribu bibit tanaman penghijauan di kawasan Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, DIY, kini terancam mati akibat kekeringan, setelah lebih dari dua pekan tidak turun hujan.

“Ada puluhan hektare areal tanaman bibit pohon penghijauan di Desa Glagaharjo kondisinya mulai kritis akibat lama tidak tersiram air,” kata Kepala Desa Glagaharjo Suroto.

Menurut dia, warga yang selama ini memberikan perhatian terhadap tanaman penghijauan itu kesulitan merawatnya, karena mereka juga kekurangan air.

“Warga saat ini harus membeli air seharga Rp120.000 per tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan ini hanya untuk dua minggu, sehingga mereka harus menghemat air,” katanya.

Ia mengatakan dalam dua pekan terakhir banyak donatur maupun relawan yang melakukan penghijauan di kawasan Merapi, sehingga bibit pohon yang baru saja mereka tanam rawan kekeringan.

“Belum lama ini ada penanaman sekitar 25 ribu bibit pohon, dan sebelumnya juga ada puluhan ribu yang ditanam. Dapat dipastikan bibit tanaman tersebut tidak akan mampu bertahan hidup, karena sekarang sudah memasuki musim kemarau, sehingga kami pun tidak bisa berbuat apa-apa karena air sulit diperoleh,” katanya.

Bambang Sugeng dari Tim Penghijauan lereng Merapi mengatakan saat ini memang bibit pohon di kawasan Merapi mulai mengalami kekeringan, dan dikhawatirkan akan mati karena kemungkinan sudah tidak turun hujan.

“Ribuan tanaman sudah layu setelah dua pekan lebih tidak turun hujan, dan dikhawatirkan tanaman tersebut akan mati jika tidak segera disiram air,” katanya.

Menurut dia, memang di sebagian wilayah di Desa Umbulharjo dan Kepuharjo sudah dilakukan penyiraman tanaman penghijauan dengan menggunakan mobil tangki, tetapi tidak mampu menjangkau seluruh areal tanaman.

“Kami mendapat bantuan dari donatur untuk menyiram tanaman dengan menggunakan mobil tangki, namun tidak bisa menjangkau seluruhnya,” katanya.

Ia mengatakan pihakya terus berupaya merawat tanaman penghijauan itu, tetapi karena adanya keterbatasan, masih banyak yang belum bisa disentuh,” katanya.

Infusisasi
Tim Penghijauan lereng Merapi pada 7 Juni lalu mulai melakukan infusisasi terhadap ratusan ribu bibit pohon yang ditanam di kawasan gunung itu yang kini terancam mati karena kekeringan akibat musim kemarau.

“Kami mencoba melakukan infusisasi terhadap bibit pohon yang ditanam, yakni dengan meneteskan air melalui benang dari botol-botol plastik yang digantungkan di samping bibit pohon tersebut,” kata Ketua Tim Penghijauan lereng Merapi Sudihartono di Sleman.

Menurut dia, dengan pola ini akan lebih efektif dibandingkan dengan menyiramkan air ke bagian tanah. “Dengan infusisasi, air akan mengalir pelan dan membasahi tanah secara optimal. Jika disiram, air akan langsung meresap ke dalam tanah, sehingga tidak optimal diserap pohon,” katanya.

Ia mengatakan setiap satu botol akan bertahan tiga hari, dan setelah habis akan diisi kembali.

“Sedangkan mengenai teknisnya, termasuk yang bertugas mengontrol botol-botol itu akan diserahkan ke pemuda di masing-masing dusun, sehingga diharapkan akan lebih efektif,” katanya.

Anggota Konsorsium Penghijauan Area Lereng Merapi (PALM) dan Tim Penghijauan lereng Merapi KH Masrur Ahmad mengatakan sudah ada ribuan pohon yang ditanam di kawasan tersebut senilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Namun, kata dia, saat ini sudah mulai banyak yang layu dan kering akibat musim kemarau sehingga kekurangan air.

“Jika ditanami bibit pohon lagi, sama saja membuang uang, karena pertumbuhan pohon di kawasan Merapi tergantung hujan. Sudah berapa ratus juta rupiah dana untuk pengadaan dan penanaman bibit pohon sebanyak itu. `Eman-eman` (sayang) kalau tidak dirawat, hingga akhirnya mati,” katanya.

Menurut dia, dari sekian banyak donatur penghijauan di kawasan Merapi, umumnya hanya sekadar simbolis, dan ratusan hingga ribuan bibit pohon yang ditanam hanya diserahkan, kemudian ditinggal begitu saja.

“Padahal, setelah penanaman, butuh perawatan agar tanaman bisa hidup. Oleh karena itu, kami akan mengupayakan penyiraman dengan air untuk menyelamatkan penghijauan di kawasan Merapi,” katanya.

Ia mengatakan penyelamatan tersebut dilakukan dengan membuat “emergency respons” dalam dua pekan ini, yakni menyiram dengan air secara massal menggunakan truk tangki.

“Kami juga akan membangun bak penampungan air menggunakan terpal ukuran empat meter kali enam meter sebanyak 100 bak. Air tersebut selanjutnya untuk menyirami tanaman itu,” katanya.

Masrur menginginkan agar para relawan maupun donatur tidak memberi tanaman, tetapi melakukan infusisasi bibit pohon yang sudah ditanam agar tetap hidup.

Donatur air
Sementara itu, Tim Penghijauan lereng Gunung Merapi mengharapkan ada donatur yang memasok air untuk menyiram bibit pohon yang sudah ditanam yang mengalami kekeringan setelah tidak lagi turun hujan.

“Saat ini yang paling kami butuhkan adalah bantuan air untuk menyiram bibit pohon di lereng Merapi, karena penyiraman belum menjangkau seluruh areal tanaman itu,” kata Ketua Tim Penghijauan lereng Merapi Sudihartono.

Menurut dia, pihaknya telah membangun 20 unit tempat penampungan air dari terpal plastik, sehingga air tersebut bisa untuk menyiram bibit pohon di kawasan itu.

“Kami sudah membuat 20 penampungan air di 20 lokasi, dan kami masih membutuhkan puluhan mungkin ratusan bak penampungan air seperti ini untuk keperluan yang sama di areal atas,” katanya.

Ia mengatakan saat ini untuk pengisian penampungan air tersebut masih dicukupi dari pasokan air para donatur dan warga sekitar.

“Namun, kami mengharapkan bantaun pasokan air terutama untuk areal bagian atas yang sudah jauh dari permukiman warga. Jika sebelumnya ada donatur yang menanam ribuan bibit pohon, maka saat ini kami juga mengharapkan bantuan ribuan galon air,” katanya.

Bibit pohon penghijauan yang banyak ditanam di kawasan Merapi umumnya jenis pohon keras seperti sengon, jati kebon (jabon), dan pohon keras yang bernilai ekonomis lainnya.

Sedangkan di lahan yang berada dekat dengan permukiman warga, selain ditanami bibit pohon keras, juga bibit pohon buah-buahan.

Terkait dengan itu, warga kawasan Merapi di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, mengharapkan bantuan bibit tanaman sayuran untuk mendukung pemulihan ekonomi mereka.

“Selama ini memang sering ada pemberian bantuan berupa penanaman bibit pohon di wilayah ini, namun semuanya berupa tanaman keras. Kami mengharapkan ada bantuan bibit tanaman sayuran untuk kami kelola, sehingga bisa menghasilkan uang, karena kami saat ini tidak punya penghasilan lagi,” kata salah seorang warga Dusun Srunen, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sutrisno.

Kepala Desa Glagaharjo Suroto mengatakan sebenarnya pihaknya sudah menyampaikan keinginan warga tersebut kepada pemerintah, tetapi belum ada tanggapan.

“Kami berharap keinginan warga ini bisa segera direspon pemerintah maupun para donatur. Bibit tanaman sayuran yang cocok ditanam di wilayah ini antara lain cabai, terong dan kubis. Harga Rp100 per bibit, bagi warga di sini masih tergolong mahal,” katanya.