REDD Jangan Menggeser Adaptasi

Bernadinus Steni

2011

 Berbagai laporan internasional menunjukan betapa rentannya masyarakat terhadap perubahan iklim. Laporan Pembangunan Manusia 2007/2008 Badan Pembangunan PBB (UNDP), menegaskan, kaum buruh tani, masyarakat adat sekitar hutan, dan penduduk di pesisir pantai adalah golongan yang paling rentan atas dampak perubahan iklim. Temuan dan analisis serupa juga muncul dalam laporan UNFCCC (2007) mengenai Dampak, Kerentanan dan Adaptasi di Negara-negara Berkembang. Seorang pakar perubahan iklim, Maarten K. van Aalst (2006) dari Lembaga Palang Merah Belanda untuk Perubahan Iklim dan Kesiapsiagaan Bencana memprediksi skenario-skenario buruk penurunan hasil pangan yang sangat signifikan akibat perubahan iklim. Sebuah laporan yang lain mengenai Asesmen Dampak dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim (2006),[1] mencatat penurunan produksi hingga 100 % di beberapa komunitas di Filipina atau gagal panen.

Sejumlah putaran diskusi yang difasilitasi Kamar Masyarakat DKN di Ngata Toro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (23-24 September 2010), Putussibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (28-30 September 2010), Waingapu, Sumba (21-22 Oktober 2010), Muluy, Paser, Kalimantan Timur (24 November) juga menemukan fakta bahwa perubahan iklim sudah mengakibatkan penurunan hasil panen hampir 100 %. Di beberapa komunitas di Kabupaten Kapuas Hulu, misalnya, hasil panen dalam sepuluh tahun terakhir berkurang drastis dari 1000 gantang berkurang hanya menjadi 200 – 300 gantang.[2]  Sumba, Nusa Tenggara Timur juga mengalami kemunduran. Panen jagung gagal karena pola hujan tidak jelas. Hingga November 2010, hasil padi ladang orang Muluy di Kabupaten Paser Kalimantan Timur makin menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1999, biasanya mereka menghasilkan 50 kaleng. Pada 2010, dari sembilan belas kelompok (kelompok terdiri dari gabungan kepala keluarga dari satu keluarga inti. Total KK-nya 35 KK) yang buka ladang, hanya ada 5 kelompok yang memperoleh hasil 50 kg, itupun dengan jumlah benih lebih dari sekaleng. Pada 1999, mereka hanya mengeluarkan benih 1 kaleng. Dua kelompok, sama sekali tidak mendapat hasil. Ada 8 kelompok hanya memperoleh hasil kurang dari 10 kaleng. Hasil itu sangat tidak cukup untuk panenan yang hanya sekali dalam setahun.

Semua komunitas yang digambarkan di atas adalah komunitas yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan dengan luas yang sangat signifikan. Mereka merupakan bagian dari puluhan juta masyarakat yang telah hidup secara turun temurun di dalam dan sekitar kawasan hutan. Sebagian besar di antara mereka telah membuktikan dirinya mampu menjaga hutan secara lestari. Bahkan, komunitas sungai utik di Kapuas Hulu mendapat sertifikat pengelolaan hutan lestari dari Menteri Kehutanan. Namun, fakta-fakta menunjukan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, hutan-hutan tersebut semakin rentan karena perubahan iklim.

Di sisi lain, pemerintah mendorong kebijakan dan proyek REDD menjadi euforia nasional dan menjadi salah satu agenda pokok pemerintah saat ini. Namun kebijakan ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan upaya masyarakat untuk bertahan dan mampu beradaptasi termasuk mengelolah hutannya sendiri secara lestari. Kebijakan-kebijakan ini lebih mengutamakan promosi peningkatan stok karbon yang akan masuk skema pasar pasca 2012.

Meskipun skema REDD belum begitu jelas, namun berbagai kebijakan cepat Kementerian Kehutanan merespons REDD menunjukan bahwa hak atas karbon hutan akan mengacu pada hak negara atas kawasan hutan. Hak masyarakat atas hutan belum diakui. Di sisi lain, secara saintifik, REDD merupakan skema yang menjaga hutan sedemikian rupa untuk menghindari kebocaran karbon. Artinya, di lokasi proyek REDD, banyak pembatasan akses ke dalam kawasan hutan akan diberlakukan. Saat ini,  sebagian pilot proyek REDD beroperasi di kabupaten atau provinsi tempat komunitas-komunitas di atas hidup. Bagaimana mungkin komunitas di sekitar dan dalam kawasan hutan yang sudah rentan karena perubahan iklim justru harus dibatasi demi kepentingan stok karbon yang akan dijual ke negara-negara utara. Pertanyaannya, REDD untuk siapa ? Untuk masyarakat atau para pemburu sertifikat karbon dari perusahaan-perusahaan eksploitatif yang telah menghancurkan sumber daya alam ?

@@@@@


[1] Rodel D. Lasco dari University of the Philippines Los Baños College, Laguna, Philippines dan Rizaldi Boer dari IPB, Bogor, (2006)

[2] 1 gantang = 10 kaleng susu = 2,5 kg

One thought on “REDD Jangan Menggeser Adaptasi

Comments are closed.