Pembakaran Lahan Pengaruhi Perubahan Iklim Kalimantan Barat

sumber : antaranews.com

22 Juli 2011

Sungai Raya, Kalbar (ANTARA News) – Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kuhu Raya Aswin Fuad mengatakan akibat pembakaran lahan dan perubahan iklim secara global menyebabkan cuaca ekstrim yang kerap terjadi di Kalimantan Barat.

“Cuaca Ekstrim ini mengakibatkan hujan deras, yang sering mengakibatkan banjir, dan terdapat Thunderstorm serta juga angin Puting beliung pada, musim penghujan dan pancaroba,” kata Aswin, di Sungai Raya, Jumat.

Karena letak Kubu Raya dan kota Pontianak dan beberapa daerah di Kalbar tepat digaris khatulistiwa, sehingga pola hujannya adalah type Equtorial. Artinya, wilayahnya memiliki distribusi hujan bimodial dengan dua puncak masa waktu banyak hujan yaitu pada bulan April dan November, dan dua lembah masa waktu yang kurang hujan yaitu pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.

“Kabut asap yang selalu muncul di Kalimantan Barat, erat kaitannya dengan adanya aktifitasĀ  pembersihan lahan dan hutan dengan cara membakar. Sejak lama pembersihan lahan tersebut dilakukan umumnya pada musim kering merupakan upaya praktis yang dapat dilakukan perusahaan dalam menghemat pengeluaran biaya dengan pembersihan lahan,” tuturnya.

Aswin menjelaskan, Kalbar dan Kubu Raya pada khususnya secara geografis terletak di sekitar garis khatulistiwa dan tanahnya mayoritas adalah tanah gambut. Dalam kondisi alami yang tidak terganggu tanah gambut mumpunyai fungsi ekologi yang penting.

Diantaranya mengatur air di dalam dan di permukaan tanah. Dengan sifat-sifatnya yang seperti spon, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinyu dilepas perlahan-lahan. Hal itu menyebabkab air akan mengalir secara konsisten.

Sementara bagi masyarakat khususnya petani tradisionil, pembakaran lahan saat memulai pertanian, adalah untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut, sehingga mengurangi penggunaan pupuk yang bernilai ekonami tinggi. Namun hutan rawa gambut yang umumnya terdapat di Kalimantan Barat, ditempat terbuka dan kering sangat rentan terjadi kebakaran yang selanjutnya dapat menimbulkan asap berakibat dapat mengganggu kesehatan dan menghambat transportasi.

Bila musim kering maka seringkali tedadi asap yang mengganggu kesehatan dan menghambat transportasi. “Dalam hal peranan para penyuluh lapangan sangatlah penting guna menyampaikan informasi kepada para petani tradisional untuk tidak memperburuk keadaan,” katanya.

Terlihat betapa pentingnya membangun kerja sama dengan instansi yang menangani penanggulanga mitigasi bencana, khususnya dalam hal disseminasi informasi peringatan dini.

“Dengan harapan meningkatnya kemampuan masyarakat untuk merespon informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrim, serta memperhitungkan resikonya , untuk langkah-langkah antisipasi dampak dari cuaca ekstrim. Bagaimana pun jugs langit biru adalah dambaan kita semua,” kata Aswin.

(ANT-171)

Editor: Ella Syafputri