Stop Penebangan Pohon: Selamatkan Ruang Terbuka Hijau Jakarta

sumber : walhi

Selama 25 tahun, Jakarta telah kehilangAn 85 persen Ruang Terbuka Hijaunya. Secara pararel ancaman bencana terus mendera jakarta akibat tidak ada lagi daya dukung lingkungan hidup yang memadai. Padahal keseimbangan lingkungan perkotaan secara ekologis sama pentingnya dengan perkembangan nilai ekonomi. Kondisi menurunnya kualitas lingkungan hidup dan aspek ekologis akan menyebabkan terganggunya ekosistem perkotaan.

Tindakan inkosistensi dari Pemprov dengan membuat pembangunan (fisik bangunan, infrastruktur, transportasi) menggusur taman, lapangan olah raga, mengurangi jalur hijau, dan menebangi pohon mengakibatkan kota mengalami degradasi kualitas lingkungan hidup berupa pencemaran udara, penyakit, krisis air bersih, banjir, erosi tanah, intrusi air laut dan abrasi pantai.

Berkurangnya RTH tidak saja menimbulkan dampak ekologi dan estetika kota menjadi buruk. Lebih dari itu, adalah ancaman makin suramnya masa depan perempuan dan anak-anak generasi penerus bangsa. Buruknya kualitas dan kualitas air serta kotornya udara jakarta akibat pencemaran lingkungan telah memicu berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia, dan kelompok masyarakat yang paling rentan adalam perempuan dan anak-anak.

Pepohonan menurunkan konsentrasi timbal dan partikel lain (debu) yang melayang di udara, sebab pepohonan dapat meningkatkan turbulensi dan mengurangi kecepatan angin.  Sedang gas-gas SOx, CO dan NOx dalam konsentrasi sub-letak dapat dinetralisir melalui proses oksidasi. Besar kecilnya suatu tanaman mengendapkan timbal dan unsur lain, dipengaruhi oleh: (1) permukaan daun, semakin kasar daya mengakumulasi (endap) semakin tinggi; (2) ranting dan dahan:  yang berbulu mampu menjerap lebih banyak partikel timbal dan seng dibanding ranting yang berkulit licin.

Penyakit ISPA juga ditengarai sebagai penyakit yang menduduki urutasa yang diderita oleh sebagian besar warga jakarta. Dan celakanya, perempuan yang terkena polutan kotor berdampak pada terganggunya sistem reproduksi perempuan yang berakhir pada tingginnya potensi kematian bayi dan cacat lahir.

Harus juga dipahami bahwa memimpikan udara yang bersih dan sehat tanpa upaya mensinergikan transportasi masal yang ramah lingkungan maka akan sia-sia. Penyediaan RTH yang luas, membangun pedestrian yang nyaman, serta melindungi dan pemberbanyak pohon dalam kota merupakan tindakan yang harus dilakukan. Luas satu hektar RTH mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen. Jumlah tersebut dapat dikonsumsi oleh 1.500 orang/hari, mengurangi suhu 5-8 oC, meredam kebisingan 25-80 persen, dan menyerap gas polutan 75-80 persen.

Penebangan pohon yang terus terjadi seolah mempertegas ketidakseriusan Pemprov DKI Jakarta untuk keluar dari ancaman berbagai bencana dan penyakit. Alih-alih menambah RTH, justru sebaliknya secara terang benderang kebijakan dan tindakan Pemprov mempertontonkan pembantaian terhadap pepohonan. Kejahatan penghancuran pepohonan yang akhir-akhir ini terjadi, tidak saja menginjak-injak perundangan-undangan dan hak asasi warga jakarta tapi juga masa depan jakarta yang semakin suram.

Guna menyelamatkan Jakarta di masa depan kami menyatakan :

Pertama, ungkapan keprihatinan kami yang mendalam terhadap pemprov yang selama ini sudah tidak memiliki akal sehat dalam memperlakukan pepohonan di Jakarta.

Kedua, meminta kepada gubenur DKI Jakarta untuk segera menghentkan aktivitas penghilangan dan pepohonan di berbagai penjuru kota Jakarta.

Ketiga, meminta kementrian Lingkungan Hoidup untuk menjalankan wewenangnya dalam pengawasan dan penegakan hukum atas pembangunan jakarta yang bertentangan dengan prinsip keberlanjutan kota di ibukota negara ini.

Keempat, menghimbau dan mengajak segenap warga Jakarta untuk bersama-sama menyelamatkan dan mewujudkan jakarta yang lebih sehat dan manusiawi bagi warganya.