Periode Kedua Protokol Kyoto Cerah

sumber : kompas

Durban, Kompas 7 Desember 2011- Konferensi Perubahan Iklim PBB sampai tahap perundingan tingkat menteri. Proses negosiasi enam hari akan dipertaruhkan di meja pertemuan tingkat menteri ini untuk disetujui. Sejauh ini, nasib periode kedua Protokol Kyoto kian cerah.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi Pertemuan Para Pihak ke-17/Pertemuan Para Pihak tentang Protokol Kyoto ke-7 (COP-17/CMP-7) Kerangka Kerja Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Selasa (6/12), di Durban, Afrika Selatan, menegaskan, dunia dan orang-orang tak bisa menerima kata ”tidak” sebagai jawaban di Durban.

”Sebaliknya, saya katakan bahwa inilah waktunya untuk bersikap ambisius,” kata Ki-moon, seperti dilaporkan wartawan Kompas Brigitta Isworo Laksmi.

Ban Ki-moon menyatakan perlunya empat hal yang harus dilakukan demi masa depan lebih baik. Keempatnya adalah keputusan seperti terbentuknya Komite Adaptasi, masalah pendanaan perubahan iklim dengan Green Climate Fund (GCF), masa depan Protokol Kyoto, serta visi bersama yang komprehensif, mengikat secara hukum, serta adil dan efektif untuk semua pihak.

Menurut dia, pertama adalah kesepakatan di Cancun harus diterapkan. ”Kerangka kerja adaptasi dan Komite Adaptasi serta Mekanisme Teknologi dan Jaringan serta Pusat Teknologi Iklim harus siap dilaksanakan,” ucapnya. Komite Adaptasi, menurut Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, telah selesai, menunggu pencalonan negara dan calon-calon pengurusnya.

Mengenai GCF, keberatan negara berkembang dan rentan bencana adalah soal transparansi dan penyalurannya. ”Semua sudah teridentifikasi pada anggaran nasional,” kata Ban Ki-moon. Dana jangka pendek, yaitu pendanaan jalur cepat berjumlah 30 miliar dollar AS (sekitar Rp 270 triliun). Adapun pendanaan jangka panjang 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 900 triliun) per tahun mulai tahun 2020 yang disebut Dana Perubahan Iklim.

Mengenai masa depan Protokol Kyoto tahap kedua. ”Protokol Kyoto sendiri tak akan menyelesaikan masalah. Namun, itu merupakan dasar untuk membangun,” kata Ki-moon. ”Penting sekali, kita jangan menciptakan kondisi vakum,” ujarnya.

Hal terakhir yang ia tegaskan adalah perlunya berpegang pada visi bersama dalam perjanjian perubahan iklim yang komprehensif, mengikat secara hukum yang efektif dan adil bagi semua.

Menurut dia, kini banyak pihak bergerak pada jalur (emisi) karbon rendah. ”Sebab, mereka tahu itu bagus untuk planet dan bagus untuk mereka,” ujarnya.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC Christiana Figueres menegaskan, saat ini ada banyak kemajuan. Namun, perlu keterlibatan para menteri. ”Para negosiator telah menciptakan kondisi selama pekan lalu. Kini saatnya para menteri untuk menciptakan solusi,” ujarnya.